Wednesday, September 26, 2018

TanteKu KO Setelah Ngeseks Denganku Selama 6 JAM

Awalnya begini, waktu itu sekitar bulan Februari 2010, saya ingin mengunjungi teman lama saya di Bogor dengan kendaraan umum, saya sampai di kota yang menurut saya banyak menyimpan kenangan di masa lalu, sebab saya pernah merasakan kesegaran udara kota ini sekian tahun yang lalu. Oh ya, saya sekarang berumur 33 tahun, umur yang hampir matang dan saya pernah mengenyam pendidikan di kota ini selama hampir 6 tahun.

Cerita Sex 6 jam Bercinta Di Kota Bogor

Sampai di Bogor saya bingung ingin kemana dulu sebab setelah sampai, ada rasa rindu di dada untuk mengetahui lebih lama tentang perubahan kota ini. Setelah berkeliling Kebun Raya saya merasa penat, akhirnya saya mampir ke pusat jajan di Mal Pasar Bogor. 
Pikiran saya menerawang jauh ke masa lalu, sambil berjalan saya mengamati banyak orang lalu lalang di sekitar mal tersebut.Dalam hati mudah-mudahan ketemu teman, jadi kan enak bisa ada yang temani. Ketika saya menuju sebuah tempat duduk di pusat jajan saya berpapasan dengan seorang wanita, yah sekitar 25 tahun dengan berpakaian rapi seperti karyawati umumnya. 
Dengan tersenyum saya menyapa, “Hai,” masalahnya wanita itu telah tersenyum duluan dengan saya. Perlu diketahui saya memang kuper bila berhadapan dengan wanita, saya tidak berani bicara dahulu tanpa didahului.“Rasanya saya pernah kenal dengan.. Mas..”Wah saya dipanggil “Mas”, tapi tidak apa deh, dengan senyum lagi saya jawab,“Dimana..”Dengan sedikit basa-basi akhirnya saya perkenalkan diri saya dan saya ajak makan bersama, kebenaran saya sedang lapar, eh dia juga mau. Sambil menikmati makanan, saya banyak diam sebab saya takut, jangan-jangan saya dijebak oleh sesuatu yang saya tidak tahu kemudian saya diperas, pikiran tersebut selalu menghantui saya.
Tapi lama-kelamaan saya mulai memahami situasi. Wanita itu memperkenalkan diri sebagai Nadia yang bekerja di salah satu perusahaan asuransi.Dengan sedikit berhati-hati saya memberanikan diri untuk mengajak Nadia untuk beristirahat, sebab dari pembicaraan antara saya dengan dia saya simpulkan Nadia juga sedang sumpek pikirannya, dia sedang mencari luapan emosi yang mendera di hatinya. Dengan sedikit halus Nadia menolak ajakan saya, sebab katanya dia takut saya berbuat jahat. Wah pikirannya sama dengan saya. 
Terus saya pikir lagi, mungkin wanita ini perempuan yang tidak benar (maaf.. WTS), tidak tahunya wanita benar-benar wanita karier, tapi belum menemukan karier yang jelas.Dari gaya bicaranya Nadia suka dengan saya, kemudian saya melanjutkan lagi diskusi sampai hampir sejam lebih. Dengan sedikit ragu saya ajak kembali, akhirnya dengan senyum dia menyetujui tapi dengan syarat, katanya bahwa saya jangan macam-macam. Wah saya jadi gemetar, tapi naluri seorang laki-laki normal saya katakan, saya tidak akan macam-macam apabila dia tidak mecam-macam juga.Oke, sepakat kami menuju sebuah tempat di daerah pinggiran kota Bogor, tempatnya mendukung untuk sepasang yang sedang gundah gulana untuk mengemukakan perasaan yang lebih jauh. Saya pesan sebuah ruangan paviliun yang terdiri dari kamar mandi, kamar tidur dan ada teras di dalam dengan nuansa alami. 
Yah di situlah saya melanjutkan kisah cerita dari hati ke hati. Saya mendengarkan dengan sabar tapi sesekali saya berikan pandangan yang luas tentang arti hidup, mamang kata teman-teman saya, saya dapat memberikan rasa nyaman bila bicara, itu kata teman-teman saya (khususnya yang wanita) saya sendiri tidak merasa demikian, wah GR nih.Kurang lebih setengah jam berlalu tanpa saya duga sambil bercerita Nadia menangis sambil merapatkan kepalanya di lengan saya, wah saya jadi gerogi tapi saya tahan untuk terus memberikan dorongan moril. 
Tapi sekali lagi sebagai laki-laki normal saya tidak bisa menahan gejolak kelaki-lakian saya, saya usap rambutnya sambil membelai-belai, tak lama kemudian tangisnya reda. Kami saling berpandangan sekian detik.Detik selanjutnya Nadia memeluk erat tubuh saya, wah saya semakin tidak karuan dibuatnya. Dengan bisikan halus saya mengingatkan jangan macam-macam, terus Nadia malah mempererat pelukannya dan berkata sepertinya kami memang sudah macam-macam, wah tantangan nih saya pikir. Saya balas pelukannya dengan sedikit perlahan-lahan dan saya kecup keningnya, dengan refleks Nadia mencium bibir saya, yah saya layani dengan sedikit hati-hati, saya takut hatinya masih rapuh dan terbawa emosi saja.
Semakin lama ciuman kami semakin panas, saya mulai melakukan aksi menjalankan kewajiban sebagai seorang Bani Adam memberikan kenikmatan kepada seorang Bani Hawa. Dengan pasrah dibiarkannya buah dadanya saya usap-usap terus saya remas dengan sepenuh perasaan. Sedikit demi sedikit saya lepaskan baju kerjanya yang terdiri dari beberapa kancing. Akhirnya terlepas sudah baju dengan tangan kanan saya letakkan di atas meja sedang tangan kiri terus bergerilia antara “Gunung Sahari” hingga ke “Gunung Agung”.Sementara lidah kami terus bergelora saling melilit sesamanya. Semakin ganas saja rupanya tanpa sedikit sabar kameja saya direnggutnya, saya maklum gelora nafsunya semakin naik, dia lepaskan bibirnya kemudian menjilat-jilat leher saya. Wah saya tidak tinggal diam, saya telusuri dengan lidah di balik telinga terus merayap ke leher dengan sedikit gigitan kecil, lalu saya kulum ujung payudaranya yang sedikit kecoklatan, semakin mengejang payudaranya.
 Situs BandarQ online
Saya gigit-gigit kecil, “Ahh.. hh.. Mass.. tekann teruss..”Tanpa saya sia-siakan, saya gotong tubuh setengah bugil ke atas tempat tidur dan saya rebahkan, kemudian saya lepas roknya, terlihatlah seonggok daging yang masih terlapisi sehelai bahan tipis yang tembus pandang. Saya terpana sejenak dengan pemandangan yang sangat indah yang susah dilukiskan dengan kata-kata. Terus saya buka perlahan-lahan sambil saya jilati dari pangkal paha sampai ujung kaki, saya buat Nadia seperti mimpi. Tanpa saya perintah celana panjang saya dilepasnya hingga CD saya pun dilepaskan.Wah “adik” saya itu rupanya sudah menggeliat dengan sangat elegans. Diusapnya dengan belaian halus sambil sesekali dipijit, “Aahh.. ahh,” saya melenguh semakin nafsu. 
Tiba-tiba dihisapnya ujung batang kemaluan saya, “Aahh.. ahh.. jangann!” dengan reflek saya angkat kepalanya, saya memang belum pernah dihisap kemaluan saya oleh siapapun. Saya takut kena penyakit, kata orang-orang pintar.Tapi tindakan saya malah membuat matanya semakin syahdu, liar, nafsu, campur aduk. Ditepisnya tangan saya, dikulumnya lagi sambil bergerak maju mundur. Pikir saya, biarin deh saya yakin dia wanita bersih. Saya merasakan dunia ini berputar, “Nikmatt.. ahh.. ahh terus yang kencang sedotnya.. ahh.. ahh..” tangan saya terus meremas-remas rambutnya yang terurai bebas lepas seperti nafsu manusia bila lepas kendali. 
Samaikn lama ujung kemaluan saya berdenyut-denyut menandakan saya hampir klimaks.Saya sadar, kemudian saya minta lepaskan untuk memberi peluang istirahat, dengan sedikit merenggangkan kedua pahanya, saya usap dengan jari tengah bibir kemaluannya yang sudah basah dengan lendir kewanitaan. “Ahh..” lenguhan panjang terdengar, saya teruskan dengan menjilati hutang kemaluan di sekitar liang kemaluan.“Eehaacckk.. aahh.. aahh..” pantatnya digerakkan semakin liar dengan kedua tangan menyanggah tubuhnya. Sedikit saya gigit ujung klitorisnya dia bergelinjang hingga terlepas dari jangkauan lidah saya. Saya berusaha menghampiri lagi tapi.. “Maass.. jangan terusskan.. ahh..” sambil tangannya menggenggam batang kemaluan saya dan ditariknya menuju liang kemaluannya yang sudah siap untuk dimasuki benda tumpul.Dengan susah saya tekan, tidak berhasil akibat licinnya landasan kemaluannya dan sempitnya lubang surganya. Tapi tanpa kehilangan kontrol akhirnya saya berhasil masuk, “Aahh.. ahh..” Saya diamkan beberapa detik di dalam kemudian saya gerakkan perlahan-lahan sambil meresapi kenikmatan yang ditimbulkan oleh gesekkan antara dua kutup yang saling membutuhkan. 
Sepuluh menit berlalu kami saling cengkram, saling gigit, saling goyang, dan seterusnya akhirnya saya berinisiatif untuk di bawah agar kenikmatan ada pada wanita.Tanpa membuang waktu Nadia menggerakkan pantatnya turun naik sambil berputar putar mencari titik kenikmatan yang sangat dasyat dengan beberapa gerakan tertentu. Saya merasakan Nadia semakin nikmat bila pergerakan sedikit menekan ke arah samping kanan, mungkin disitulah letak syaraf yang sangat sensitip bahkan super sensitip untuk dinikmati oleh seorang wanita yang tengah dirasuki nikmat yang luar biasa. Suara kami saling bertalu seirama dengan gerakan yang semakin dasyat. “Aakhh..” dengan menghimpitkan kedua pahanya Nadia melenguh dengan kencang dan kejang. Wah, sudah orgasme rupanya sang betina. Saya semakin nafsu dibuatnya.Beberapa saat saya balikkan tubuhnya, saya tekan dengan kemaluan saya yang menurut ukuran sedikit di atas normal dan berurat-urat. 
Hal itu dikatakan oleh Nadia sebelum kami bertempur tadi. Saya tekan dari belakang, “Aahhk..” saya pikir masuk ke liang dubur kok sempit sekali tapi tidak tahunya benar-benar di liang kemaluannya, yang konon katanya bila dimasukkan melalui belakang, dinding kemaluan semakin rapat sehingga dapat menyedot benda-benda yang ada di sekitarnya.“Teruss.. teruss tekan.. ahkk,” tangan saya tak lepas dari pentil payudaranya. Semakin lama ujung kemaluan saya berdenyut keras, menandakan akan ada badai dasyat. Saya hentikan tekanan kemaluan saya dalam lubang kemaluannya. Saya balikkan lagi tubuhnya dengan sangat perlahan tapi pasti. Saya ambil bantal untuk mengganjal pantatnya yang seksi agar ruang gerak kemaluan saya dapat masuk ke lembah yang lebih dalam dan dasyat lagi.Benar juga, setelah saya lepaskan “torpedo” saya, Nadia bergelinjang sangat dasyat, “Ahhk.. ah.. akk.. Mass.. kamu kok.. hbff..” wah tidak ada kata-kata lagi yang dapat diucapkan secara normal. Begitu pula saya dengan sedikit sisa tenaga yang ada, saya tekan sekuat perasaan. 
Beberapa detik kemudian saya sadar akan bahaya bagi Nadia.  bisikan beberapa kata, “Yang.. saya.. tumpahkan.. dimaanaa..” dengan tersenyum dan mata yang telah hilang hitamnya didekapnya saya sangat erat sambil berucap, “Te.. terussin.. Maass..” dengan ucapan demikian saya mempercepat gerakan tapi pasti, akhirnya..“Aahhk.. aohh.. nnff.. ahh..”“Crott.. crott.. crott.. crot..”Saya dekap tubuhnya dengan sangat erat, saking dasyatnya permainan ini hingga saya takut kehilangan momentum yang tidak pernah saya dapati ini.Saya dan Nadia saling peluk. “Terima kasih.. Mass.. karena telah.. memberikan semangat lahir dan batin,” sambil mengecup kening saya. Saya hanya tersenyum penuh arti. Akhirnya saya berpisah dan hingga saat ini saya tidak pernah bertemu lagi. Jika dipikir-pikir hal itu bagai mimpi, tapi itu kenyataan adanya. Sering saya melamun, akankah hal itu dapat terjadi lagi? jawabnya ada pada kenyataan alam. Oke, bagi rekan-rekan yang ingin mengoreksi atau mengomentari atau berteman atau lebih dari itu, saya hanya manusia biasa yang dapat menerima dengan ikhlas. Layangkan ke e-mail saya. Hanya orang dewasalah yang akan saya balas, terima kasih atas perhatiannya.

Thursday, August 2, 2018

Cerita Seks Saya Bercumbu Dengan Gadis SPG Centil

Tika, gadis cantik yang dulunya berprofesi sebagai SPG yang juga memiliki toket gede – Tempat fitness saya cowok dan cewek dicampur, biasanya sih para cewek hanya
ikut aerobik-nya saja. Jarang ada yang ikut angkat-angkat beban. Takut gede
kali, ya! Padahal terus terang saya suka sama cewek yang berbody seperti XENA
The Prince of Warrior (tau, khan ?).


Cerita Seks Saya Bercumbu Dengan Gadis SPG Centil 


cerita seks – Nnaahh…kejadian ini berlangsung pada pertengahan 1998. Saat itu hari Selasa,
seperti biasa sepulang dari kantor, saya pergi ke tempat fitness. Hari itu ada
dua orang cewek baru (maklum…karena hampir setiap hari ke tempat fitness, jadi
hafal mana member lama dan mana member baru), satu orang berbody agak gemuk,
manis dan yang satunya lagi berbodi kecil dengan buah dada yang kecil, yah
berukuran 32-an dan berwajah imut dengan rambut lurus sebahu.
Singkat cerita, saya berkenalan dengan keduanya. Si cewek yang berbody agak
gemuk, bernama Dhea (nama sudah disamarkan!) menanyakan bagaimana mengecilkan
dan mengencangkan badan, sedangkan cewek yang berbody kecil bernama Tika (nama
sudah disamarkan!) ingin agar buah dadanya bisa besar dan kencang juga pantatnya
agar naik dan padat. Yah…saya ajarin saja. Selesai fitness kami ngobrol ngalor
ngidul. Mereka bekerja di suatu hotel, Dhea di bagian keuangan sedangkan Tika di
bagian marketing. Ternyata Tika kost yang lokasinya berdekatan tempat kost saya.
Seminggu kemudian, selesai fitness Tika mengajak main ke tempat kost-nya.
Suasana kamarnya kost-nya cukup apik, tempat tidur busa-nya hanya digelar di
atas lantai yang dihampari permadani berwarna biru muda ditutupi dengan bed
cover berwarna pink lembut. Di pojok ada lemari es kecil, terus ada televisi 17
inch dan VCD Player. Pokoknya apik penataannya, sehingga membuat betah. Tempat
kost-nya campur cewek ama cowok. Dia bercerita kalo Dhea itu suka sama saya dan
nitip salam buat saya. Saya hanya tersenyum kecil, lalu saya bilang “Tolong
sampaikan salam kembali sama Dhea, terima kasih telah menyukai saya. Tapi mohon
ma’af, kalo Dhea bukan cewek tipe saya”. Terus si Tika nanya “Emangnya tipe
cewek Mas, yang seperti apa sih?”. Saya jawab, “Saya suka cewek yang bertipe
seperti si Xena”. Dia hanya menjawab, “Ooohhh…!!”. Saat itu setelah ngobrol
ngalor ngidul, saya pamit untuk pulang. Tidak terjadi “hal-hal yang diharapkan”.
Pokoknya hampir setiap ketemu dengan Tika selalu menyampaikan salam dari Dhea.
Sebulan kemudian, saat setelah selesai fitness hujan turun dengan deras. Sambil
menunggu hujan agak reda saya dengan Tika ngobrol ngalor ngidul. Hari itu Dhea
tidak fitness karena ada kerja lembur, maklum akhir bulan. Saat itu jam
menunjukkan pukul 21:15 dan hujan mulai agak reda.
“Mas, pulang yok !”, sela Tika.
“Ayo!”, sahutku.
“Tapi anterin Tika, yah!”, rengek Tika. Saya cuma memberikan anggukan.
Sesampainya di tempat kost Tika. Sebelum masuk kamarnya, Tika menawarkan
minuman, “Mau minum apa Mas, yang dingin atau yang hangat?”. Saya jawab, “Kalo
ada kopi, boleh juga tuh !”. Lalu setelah menyajikan Kopi, Tika bilang, “Saya
mau mandi dulu ya, Mas?”. “Silahkan!”, sahut saya.
Sambil menunggu Tika mandi saya keluarkan rokok, terus saya nyalakan. Nikmat
sekali, apalagi ditemani dengan secangkir kopi panas.
Tika masuk kembali dengan rambut yang masih basah dengan memakai celana pendek
yang agak longgar dan t-shirt ngatung warna putih. Kelihatan sekali paha
putihnya dan juga buah dada yang walaupun kecil tapi kelihatan menantang, karena
ternyata si Tika tidak memakai BH.
“Wah…enak lho, Mas! Abis mandi segerr…”, kata Tika. Terus Tika menawarkan, “Mas
mau mandi, nggak?”.
Karena memang penat setelah berbody building, aku jawab “Mau…dong…!”.
Selesai mandi, saya hanya mengenakan celana pendek dengan handuk dikalungkan di
leher. Pas saya masuk ke kamar, Tika agak gugup. “Kenapa sih?”, kataku.
“Ah…enggak…”, sahut Tika. Dan saya lihat ternyata Tika sedang menonton VCD,
entah film apa yang ditonton. Terus saya tanyakan, “Film apaan sih?”. Setelah
saya lihat ternyata film Kamasutra. Terus saya bilang,”Kenapa dimatikan?”.
Sambil tersipu (menjadikan tambah imut) Tika mengguman,”Abiss…malu sih?”.
Akhirnya, saya nyalakan kembali VCD tersebut. “Kamu suka juga yah nonton VCD
BF?”, kataku.
“Emmhh…baru pertama, koq!”, guman Tika.
Selanjutnya kami asyik menyimak film tersebut, kami duduk agak berjauhan. Tika
menyender di tembok, sedangkan saya ber-sila.Saya lihat Tika tidak enak duduk,
sebentar-sebentar dia ganti posi duduk, asalnya selonjoran, terus sila, terus
kedua kakinya diangkat dengan dagu ditempelkan.
Tiba-tiba Tika mengguman lirih,”Masss…sini dong? Tika kedinginan, nih!”. Saya
tidak menyangka akan hal ini, walaupun memang ini yang diharapkan. He…he…he…
Saya terus mendekat kepadanya, sehingga kami bersandar di tembok. Tika langsung
merebahkan kepalanya ke dada saya. Saya jadi kaget untuk yang kedua kalinya.
Untung tidak jantungan.
Untuk yang ketiga kalinya saya dibikin kaget oleh Tika,”Mas…ganti dong Film-nya,
terlalu banyak ngobrolnya. Tolong ambilin di lemari kecil itu”, sambil menunjuk
ke arah lemari yang dimaksud. Terus saya beranjak ke arah lemari tersebut, dan
saya jadi kaget lagi untuk yang kesekian kalinya. Ternyata dalam lemari tersebut
ada sekitar 10 buah VCD BF. Saya ambil semua, saya serahkan sama Tika. Terus
Tika mengambil satu yang berjudul The Phoneix. Saat itu jam 23:15.
Setengah jam setelah nonton, saya lihat Tika makin gelisah. Sambil tetap saya
peluk, saya lihat tangannya mengusap-ngusap pahanya, naik sampe ke arah
memeknya. Demikian terus menerus. Melihat kegiatan yang Tika lakukan, maka saya
pun jadi konak. Tangan saya yang sedang meluk Tika, bergeser turun ke arah buah
dadanya, agak ragu juga sih. Tapi begitu tangan saya sampe di buah dadanya, si
Tika malah makin membusungkan dadanya. Tangan saya masuk dari bawah kaosnya
merayap ke arah buah dada sebelah kiri. Saya remas pelan, terus saya raba
putingnya yang sudah mengeras, saya pelintir-pelintir pelan. Tika menaikkan
pinggulnya, sambil mendesah,”Ooohhh …. Mmhhaasss ….”. Saya yang mendengar
desahan tersebut makin konak saja. Posisi saya dengan kaki berselonjor dan Tika
duduk di depan saya diantara ke dua paha saya. Menjadikan saya lebih leluasa
untuk meremas buah dadanya. Tangan kiri saya masih terus meremas buah dada yang
kiri, sedangkan tangan kanan saya mencoba membuka t-shirtnya. Ternyata Tika
mengerti apa yang saya kehendaki. Sekarang bagian atas Tika sudah toples, saya
lihat buah dadanya yang kecil tapi indah dengan puting berwarna agak kecoklatan
dan sudah mengeras, ditambah dengan kulitnya yang kuning langsat. Melihat
pemandangan seperti itu dari arah belakang atas punggungya menjadikan saya makin
bertambah nafsu untuk menjadikan Tika lenih terangsang. Cerita film sudah tidak
disimak lagi, malahan kami yang sekarang sedang beradegan. He…he…he… Setelah
yang kiri, tangan saya beralih ke arah buah dada yang kanan. Tangan kanan saya
merayap mengusap pahanya, terus beralih ke arah memeknya yang masih ditutupi
celana pendeknya. Saat tangan kanan saya meraba memeknya, sambil bersandar ke
dada saya, pinggul Tika dinaikkan, sambil mendesah, “Ahhh … ahhhhh ……. Oohhh …”.
Terus tangan kanan saya naik ke arah perutnya, pas di pusarnya saya elus-elus,
terus menyelinap ke dalam celana pendeknya, saya raba lagi memeknya yang masih
dibungkus dengan CD satinnya. Tangan saya gosokan naik turun di antara celah
memeknya. Tika makin melentingkan pinggulnya. Karena ditempat kost, Tika hanya
mendesah “Ahhhh … ooohhhh …. aaahhhh …”. Tangan kanan saya lalu menyusup ke arah
memeknya melalui celah-celah CD-nya dekat pangkal paha, dan memang sudah basah.
Terus saya cari Clit-nya, yang sudah menonjol keluar, sehingga memudahkan untuk
menggosoknya. Saya usap pelan-pelan, makin lama saya gosok makin cepat. Pinggul
Tika makin melengking dengan raut wajah yang sudah sangat terangsang. Tika hanya
bisa mengeluarkan desah, “Aaauuuhhhh ….. ooohhhhh …..”. Makin lama jari tangan
kanan saya pasif, yang aktif makin keras adalah goyangan pinggul Tika, naik
turun makin cepat.
Dan akhirnya Tika sampai pada klimaksnya kedua tangannya memeluk bahkan hampir
mencekik leher saya, sambil berteriak lirih, “AAAAUUUHHHHH ….. MMMHHHAAASSSSS
……OOOOOHHHH…”. Tubuhnya lemas bersandar di dada saya. Sambil kepalanya
tengadah, saya kecup bibirnya. “Terima kasih, Mas…”, ujarnya lirih. Saat itu
sudah jam 24:30. Saya pamit untuk pulang. Sejak saat itu kami selalu melakukan
hal yang sama, tetapi tidak sampai Coitus. Karena saya pernah mencoba melakukan
Coitus, tetapi Tika tidak mau. Dan kebetulan Tika suka mengulum batang kemaluan
saya. Maka dalam melakukan percumbuan, timbal baliknya adalah setelah Tika
orgasme, gantian Tika yang mengulum batang kemaluan saya.
Dalam melakukan percumbuan, tidak mesti saya melakukan Coitus. Saya merasa puas
dan senang bila cewek tersebut terpuaskan oleh saya. Saya sangat menyukai bila
melihat wajah cewek yang lagi konak dan orgasme, juga mendengar desahan cewek
yang sedang konak dan pada saat mencapai klimaks. Biasanya kalau saya melalukan
Coitus, melihat-lihat dulu siapa ceweknya. Kalo ternyata ceweknya sudah terbiasa
melakukan Coitus, ya…saya akan melakukan Coitus.